Teologi Pendidikan Inklusif dan Pluralisme Agama: Telaah Kritis atas Berbagai Pendapat Para Tokoh

  • Ambo Tuwo Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Enrekang, Sulawesi Selatan
Keywords: Teologi, Pendidikan Inklusif, Pluralisme

Abstract

Pada titik inilah, lahir teori Pluralisme Agama yang menuai banyak kontroversi di kalangan cendekiawan baik di barat maupun di kalangan Muslim. Semangat pluralisme ini terus disuarakan oleh berbagai pihak dengan berbagai kepentingannya. Pluralisme yang baru-baru ini disuarakan oleh kalangan pemikir barat mencoba menyetarakan kedudukan Agama-agama, dan memandang semua agama memiliki peluang untuk memberikan keselamatan bagi pemeluknya, dengan tujuan menghilangkan sikap ekslusif bagi para pemeluk agama, dan sebagai upaya menumbuh kembangkan toleransi antar umat beragama yang pada saat ini sangat sarat dengan konflik antar agama. Muhammad Legenhausen berpendapat, semulia apa pun tujuan mereka yang telah mengampanyekan Pluralisme Agama dan sedalam apapun simpati kita pada perjuangan mereka melawan intoleransi yang telah berurat berakar, kenyataannya adalah bahwa proyek teologis mereka gagal. Dan kegagalan itu tidak ditemukan dalam filosofi politik liberal. Islam dengan dalil Al-Qur’annya memiliki teori tersendiri tentang pluralisme agama ini, karena ini bukanlah sesuatu yang asing dan baru menurut Islam. Agama Yahudi dan Nasrani yang kini, dianggap memiliki keyakinan yang bathil, meskipun demikian, Tuhan tidak akan menolak mereka untuk membalas mereka dengan ganjaran yang sesuai. Dalam Al-Qur’an bahkan pahala dijanjikan kepada kaum Shabiin yang disepakati oleh banyak mufassir sebagai para penyembah bintang, mengingat mereka mengimani Allah dan hari akhir serta beramal saleh.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Budhy Munawar-Rachman dan Elza Peldi Taher, Satu Menit Pencerahan Nurcholish Madjid; Buku Pertama A-C, (Bandung: Mizan, 2013), hal. 6.

[2] Charles Kimball, When Religion Becomes Evil, (Canada: HarperCollins, 2008), hal.26.

[3] Budhy Munawar-Rachman dan Elza Peldi Taher, Satu Menit Pencerahan Nurcholish Madjid; Buku Pertama A-C, (Bandung: Mizan, 2013), hal. 111.

[4] Titik Suwaryati, Konlik-konflik Sosial Bernuansa Agama di barbagai Komunitas (Kasus Kerusuhan Sosial di Banjarmasin. 1997) Dalam Konflik Sosial Bernuansa Agama di Indonesia, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2003), hal.1.

[5] Harold Coward, Pluralisme Tantangan Bagi Agama-agama, (Yoyakarta, Kanisius; 2000), hal.167.

[6] Muhamad Afif Bahaf, Menggugat Pluralisme Barat, menggagas pluralisme syari’at, hal 1.

[7] Muhammad Legenhausen, Pluralitas dan pluralisme Agama, hal 111.

[8] Muhamad Afif Bahaf, Menggugat Pluralisme Barat, menggagas pluralisme syari’at, hal 11.

[9] Jalaludin Rahmat, Islam dan Pluralisme, hal 23.

[10] Muhamad Afif Bahaf, Menggugat Pluralisme Barat, menggagas pluralisme syari’at, hal 12.

[11] Muhammad Legenhausen, Pluralitas dan pluralisme Agama, hal 5.

[12] Jalaludin Rahmat, Islam dan Pluralisme, hal 21.

[13] Muhammad Legenhausen, Pluralitas dan Pluralisme Agama, hal 34.

[14] Sa’dullah Affandy, Menyoal Status Agama-agama Pra Islam, hal 50.

[15] Sa’dullah Affandy, Menyoal Status Agama-agama Pra Islam, hal 51.

[16] Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, hal 427.
Published
2023-05-24
How to Cite
Tuwo, A. (2023). Teologi Pendidikan Inklusif dan Pluralisme Agama: Telaah Kritis atas Berbagai Pendapat Para Tokoh. JURNAL PEMIKIRAN DAN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN, 5(1), 28-36. https://doi.org/10.31970/pendidikan.v5i1.484